Kopi : pahit-manis

“Bukahkah melepaskan sesuatu yang begitu melekat pada genggamanmu tidaklah mudah?”

“Lalu apakah harus terus kupertahankan jika hal itu kemudian menjadi duri dalam daging yang perlahan mematikan bagiku?”

Setelah sekian lama berlalu, kini Gara kembali hanya untuk mempertanyakan tentang masa lalu. Dulu, Dinda pikir Gara mengerti. Dinda pikir Gara menerima karena dia paham akan alasan Dinda pergi. Karena Dinda mengira Gara kenal betul siapa dirinya. Tapi faktanya, 4 tahun tidaklah cukup untuk benar-benar memahami seseorang, meskipun mereka yang selalu berada dekat di hati dan pikiranmu setiap saat. Menghadapi Gara yang begitu hening, Dinda akhirnya memalingkan wajahnya.

“Melepaskanmu bukan berarti aku tidak cinta. Meninggalkanmu bukan berarti aku tidak sayang. Hanya saja aku tidak bisa hidup denganmu. Menghadapimu secara keseluruhan di setiap hariku.. nyatanya aku tidak sanggup. Meskipun hatiku menginginkannya, tapi pikiranku menolak untuk diam. Ketika pikiranku telah jauh dari mimpimu tentang masa depan yang kau rancang untuk kita, hatiku memilih untuk mengikutinya.”

Gara masih tetap terdiam dan menatap secangkir kopi yang ada di hadapannya. Seolah ia berusaha memahami betul kata-kata Dinda yang baginya terdengar tidak masuk akal.

“Dan jika memang apa yang kulakukan terlihat begitu mudah bagimu, biarkanlah begitu. Aku tidak peduli. Jika menurutmu aku berpindah hati dengan begitu cepat, aku tidak akan menyangkal. Bagiku, hidupku harus terus berjalan. Dengan atau tanpa kamu. Dengan atau tanpa pendamping. Hal yang sama juga akan kulakukan kepada Ginta jika pada akhirnya aku merasa tidak sanggup untuk menjalani hidup bersamanya.”

Dinda berhenti sejenak. Segelas coklat panas di hadapannya, ia tegak sampai habis. Ia kemudian berdiri.

“Aku hanya melakukan apa yang perlu kulakukan untuk melanjutkan hidup, bertahan dan bahagia. Apapun pandanganmu tentang aku, aku tidak akan ambil pusing. Jika kamu meminta penjelasan, akan kuberikan. Meskipun kini aku sadar, kamu mungkin tidak akan pernah mengerti. Aku berharap jika kita sampai bertemu lagi, kamu sudah akan mampu menertawakan masa lalu. Seperti aku. Dan tidak lagi tinggal di dalamnya”

Dinda pergi. Gara hanya mampu memandangnya meninggalkan tempat itu. Tak ada yang lain yang mampu dilakukan. Keraguan Gara semua sudah hilang. Tersapu bersih oleh kata-kata yang diucapkan Dinda dengan begitu tegas. Kini saatnya ia melangkah pergi dari sini. Dari lembar masa lalu. Cerita dimana ia merasa bahwa Dinda masih memiliki cinta untuknya. Kenyataan yang pahit yang harus diterimanya, sekaligus membawa kelegaan manis baginya. Layaknya rasa secangkir kopi yang kini diminumnya dengan wajah tersenyum.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s