Rindu.

on

 Astari menatap dinding kamarnya. Bibirnya mengutas sebuah senyuman ketika dirinya menangkap sebuah foto yang terpajang di sana. Sebuah foto dirinya dengan laki-laki yang terlihat sudah sangat tua. Laki-laki yang dipanggilnya, Ayah. Astari kemudian teringat percakapannya dengan Andika minggu lalu. Andika yang selalu bertanya, kenapa Astari tidak pernah menceritakan keadaannya kepada Ayahnya, menceritakan masalahnya kepada Ayahnya. Padahal Ayahnya, entah bagaimana caranya, selalu menghubunginya ketika masalah datang kepadanya.

“Kenapa kamu tidak pernah cerita kepada Ayah?”

“Aku tidak cerita juga Ayah pasti sudah tahu. Buktinya Ayah selalu telpon”

“Tapi kalau kau tidak bilang apa-apa bagaimana Ayahmu bisa tahu masalahmu? Bagaimana bisa beliau membantumu Astari? Lagipula terlihat sekali beliau begitu rindu dan menginginkan kau pulang. Setidaknya mengunjungimu. Meskipun beliau tidak pernah bilang apa-apa”

“Tidak apa-apa. Ayah mengerti”

“Bagaimana kamu begitu yakin? Bagaimanapun beliau Ayahmu, Astari. Beliau pasti rindu dan khawatir akan keadaanmu”

“Kau tahu kenapa aku begitu yakin? Karena aku kenal siapa Ayahku. Karena meskipun Ayah tahu aku kesulitan dan butuh bantuannya, aku bersikeras aku tidak apa-apa. Dan karena aku tumbuh atas didikannya, Ayah tahu bahwa aku akan baik-baik saja. Karena dia percaya padaku. Percaya pada kemampuanku. Itu pula kenapa Ayah tidak pernah mengatakan kepadaku untuk pulang meskipun beliau begitu rindu. Karena dia mengerti. Dia begitu mengerti bahwa aku ingin terus mencoba berdiri sendiri dengan kekuatanku. Dan dia berusaha mengerti itu dan mendukung keputusanku meskipun beliau sangat ingin melihat wajahku. Beliau tidak ingin membebani langkahku. Karena beliau tahu, jika bilang rindu kepadaku aku pasti akan melakukan segala cara untuk pulang.”

Andika saat itu cuma bisa geleng-geleng kepala.

Kembali menatap foto di dinding, Astari hanya tersenyum. Tak terasa air matanya menetes.

Akupun begitu rindu, Ayah, batinnya. “Tapi kau adalah Ayahku, dan aku adalah Putrimu. Kita saling mengerti. Terimakasih telah menjadi satu-satunya orang yang pantas untuk menjadi Ayahku.”

Tak lama Astari terlelap. Pergi ke dalam mimpi yang membawanya untuk pulang ke dalam pelukan hangat Ayah.

— — —

P.S. Thankyou for believed in me all this time, for being someone who would always supportive, for being the one who would always understand. I hope Heaven will be such a nice place for you to stay Ayah. I miss you, though. Love, your little girl 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s